General 06 March 2026 4 Menit Baca

Dari Julius Caesar Sampai Kalender di Dinding Rumah Kita

Author
Annisa Shabirah Hajar, S.H.

Penyuluh Agama pada Kantor Urusan Agama Salang Kabupaten Simeulue

Ringkasan

"Di penghujung tahun 2025 ini, saat kita menatap kalender untuk terakhir kalinya sebelum berganti tahun, jarang kita sadari bahwa tanggal yang kita lihat adalah hasil perjalanan panjang sejarah. Kalender yang kita pakai hari ini lahir dari upaya manusia sejak zaman Romawi untuk menyesuaikan hitungan waktu dengan peredaran Matahari dan pergantian musim. Kesalahan kecil hanya beberapa menit per tahun pernah membuat tanggal dan musim bergeser jauh, hingga akhirnya diperbaiki lewat kalender Gregorian. Maka, pergantian tahun malam ini bukan sekadar angka yang berubah, tetapi penanda ketepatan waktu yang diwariskan dari ilmu, pengamatan langit, dan sejarah panjang peradaban manusia."

Pernah nggak terpikir, kenapa kalender yang kita pakai sekarang bisa begitu rapi? Kenapa ada tahun kabisat, kenapa Februari kadang 28 hari kadang 29 hari, dan kenapa tanggal kadang “meloncat”? Jawabannya ada pada sejarah panjang dua kalender besar: kalender Julian dan kalender Gregorian.

 

Sejak zaman Romawi kuno tepatnya pada masa kekuasaan Romulus (pendiri Romawi abad ke-7 SM), manusia sudah berusaha menyusun kalender agar hidup lebih teratur. Awalnya, kalender Romawi dibuat berdasarkan pergerakan Bulan. Namun kemudian orang Romawi mencoba menggabungkan perhitungan Bulan dan Matahari. Mereka bahkan menambahkan bulan ke-12 setiap dua atau tiga tahun sekali agar selaras dengan pergantian musim akibat peredaran semu Matahari. Tapi usaha ini belum berhasil. Kalender tetap melenceng jauh. Bayangkan saja, saat kalender sudah menunjukkan bulan Juni, posisi Matahari justru masih seperti bulan Maret dan berada di titik Aries. Musim jadi tertukar, dan waktu terasa “nggak nyambung”.

 

Perubahan besar terjadi ketika Gailus Julius Caesar, seorang pemimpin besar Romawi, berkunjung ke Alexandria, Mesir pada tahun 47 SM. Di sana, ia bertemu dengan Sosigenes, seorang ahli astronomi dan matematika. Sosigenes menyarankan sesuatu yang sederhana tapi revolusioner: gunakan saja perhitungan Matahari secara penuh.

 

Ia menghitung bahwa satu tahun Matahari panjangnya sekitar 365,25 hari. Agar kalender kembali cocok dengan musim, Julius Caesar bahkan harus “mengorbankan” sekitar 90 hari dari kalender yang sedang berjalan, yaitu 23 hari pada Februari dan 67 hari sisanya pada November dan Desember. Setelah itu, mulai tahun 45 SM, lahirlah kalender Julian—kalender berbasis Matahari (solar/syamsiah) yang jauh lebih rapi dan stabil.

 

Tahun Kabisat dan Kesalahan 11 Menit

 

Kalender Julian punya aturan mudah: setiap tahun yang habis dibagi empat seperti tahun 4, 100, dan 400 adalah tahun kabisat. Sistem ini kelihatan sederhana dan adil.

Tapi ternyata ada masalah kecil… sangat kecil, bahkan cuma sekitar 11 menit per tahun.

Kalender Julian menghitung satu tahun = 365,25 hari. Padahal, panjang sebenarnya satu tahun Matahari (tahun tropis) sedikit lebih pendek, yaitu sekitar 365,2422 hari. Selisih 11 menit ini hampir tidak terasa. Tapi kalau dikumpulkan terus, lama-lama jadi masalah besar.

Setelah sekitar 128 tahun, selisih itu berubah jadi satu hari penuh. Misal dihitung dari tahun 325 M sampai dengan 1582 M maka akan terdapat selisih sampai 10 hari. Sehingga pada musim semi tahun 1582 M, vernal equinox (titik musim semi Matahari) tidak jatuh pada tanggal 21 Maret, namun terjadi pada tanggal 11 Maret.

 

Hilangnya 10 Hari di Bulan Oktober

 

Untuk memperbaiki kekacauan ini, Paus Gregorius XIII melakukan reformasi kalender pada tahun 1582 M. Penanggalan ini merupakan modifikasi Kalender Julius yang pertama kali diusulkan oleh Aloysius Lilius dari Napoli-Italia dan disetujui oleh Paus Gregorius XIII. Keputusannya cukup mengejutkan: setelah Kamis, 4 Oktober 1582, hari berikutnya langsung menjadi Jumat, 15 Oktober 1582.

Artinya, tanggal 5 sampai 14 Oktober 1582 M tidak pernah ada.

Dari sinilah lahir kalender Gregorian, kalender yang kita pakai sampai hari ini.

 

Kenapa Ada Tahun yang Tidak Kabisat?

Berbeda dengan kalender Julian, kalender Gregorian membuat aturan kabisat yang sedikit lebih pintar:

Tahun yang habis dibagi 4 → kabisat

Tapi kalau habis dibagi 100 → bukan kabisat

Kecuali kalau juga habis dibagi 400 → tetap kabisat

Itulah sebabnya:

Tahun 1600 kabisat

Tahun 1700, 1800, dan 1900 bukan kabisat

Dengan aturan ini, kalender Gregorian jauh lebih akurat. Selisihnya dengan peredaran Matahari hanya sekitar 1 hari dalam 3.300 tahun. Jadi, bisa dibilang kalender ini cukup “aman” dipakai sampai ribuan tahun ke depan.

 

Dari Kalender Kerajaan ke Kalender Rumah Tangga

 

Meski sekarang kita mengenalnya sebagai kalender Masehi, sebenarnya kalender Gregorian adalah hasil panjang dari pengamatan langit, hitungan ilmiah, dan keputusan sejarah. Tidak semua negara langsung menerimanya. Inggris baru menggunakannya pada tahun 1752, dan Turki bahkan baru resmi memakai kalender ini pada 1927.

 

Jadi, kalender yang sekarang tergantung di dinding rumah kita bukan sekadar penunjuk tanggal. Ia adalah hasil perjuangan manusia selama ribuan tahun untuk menyesuaikan waktu di bumi dengan gerak langit.



DAFTAR PUSTAKA

Anugraha, Rinto. 2012. Mekanika Benda Langit. Yogyakarta: Jurusan Fisika FMIPA UGM.

Farah, Labibah. A, M. Saifulloh, and Juhanda Roesuldi. 2022. “Studi Komparasi Sejarah Dan Aturan Kalender Tahun Masehi: Julian Dan Gregorian.” AL - AFAQ : Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi 4(1). doi:10.20414/afaq.v4i1.4361.

Meeus, Jean. terj, Dr.-Ing. Khafid. 1991. Astronomical Algorithm. Willmann-Bell.

ESC

Tidak ditemukan hasil untuk ""