Opini 05 March 2026 6 Menit Baca

Menemukan Makna Baru di Malam Pergantian Tahun

Author
Fakhrurrazi, S.H.

Penghulu pada Kantor Urusan Agama Teluk Dalam Kabupaten Simeulue

Ringkasan

"Ketika jarum jam mendekati tengah malam dan langit di banyak kota bersiap dihiasi kembang api, Banda Aceh justru tenggelam dalam keheningan yang sering memancing tanda tanya: mengapa tidak ikut merayakan tahun baru? Di tengah anggapan bahwa sunyi identik dengan keterbatasan, Aceh menghadirkan pilihan yang berbeda, bukan menolak kegembiraan, tetapi mengajukan makna. Di balik larangan perayaan malam tahun baru tersimpan pesan tentang identitas, disiplin, dan ajakan untuk berhenti sejenak, bercermin, lalu memperbaiki arah hidup. Dari sini, malam tanpa petasan justru menjadi pintu masuk untuk membahas hal yang lebih mendasar. Bagaimana Aceh memaknai pergantian tahun?"

Tahun baru biasanya identik dengan suara kembang api, terompet, hitung mundur, dan ucapan selamat. Perayaan ini kerap kali terjadi pada kota-kota besar sebagai bentuk euforia menyambut tahun baru Masehi. Kota-kota tersebut seperti Jakarta Pusat, Bandung, Bali, Yogyakarta dan lainnya. Beranda media sosial juga dipenuhi dengan algoritma ucapan tahun baru. Tetapi Aceh, khususnya Banda Aceh sebagai ibukota tidak ikut merayakan kegiatan tersebut. Mengapa demikian?


Hal ini dikarenakan Aceh adalah provinsi yang menjalankan otonomi khusus. Dalam pelaksanaan pemerintahan Aceh diberikan kekhususan sendiri untuk mengatur daerahnya yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh (UUPA). Kekhususan yang dimaksud berupa mengatur bidang agama, adat, maupun pendidikan. Selain itu, Aceh juga menggandeng gelar keistimewaan yang dijuluki sebagai “bumi Serambi Mekkah”. Gelar ini diperoleh karena Aceh dari dulu sudah menerapkan Syari’at Islam sampai sekarang.


Berdasarkan pertimbangan aturan tersebut, Aceh tepatnya Banda Aceh mengeluarkan himbauan untuk tidak ikut merayakan malam tahun baru. Pernyataan ini juga diperjelas oleh Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh dengan mengeluarkan himbauan serupa. Menurut MPU perayaan tahun baru masehi tidak termasuk dalam hari besar Islam. Namun demikian, Pemerintah Banda Aceh mengajak untuk tetap sama-sama menjaga kerukunan umat beragama, persatuan, serta memelihara keamanan dan ketertiban malam tahun baru.


Banyak opini yang menyatakan bahwa, tinggal di Aceh itu menyedihkan karena banyak hal yang dilarang, padahal jika kita merujuk pada keterangan umum, bahwa larangan itu adalah bentuk kasih sayang, bukankah seorang anak kecil dilarang memegang pisau karena takut tangannya terluka? Lalu bagaimana kondisi ini?


Sejatinya, larangan merayakan malam pergantian tahun di Aceh bukanlah upaya untuk membatasi kebahagiaan, melainkan sebuah ajakan untuk mengubah euforia yang bersifat sementara menjadi sesuatu yang lebih bermakna dan substansial. Jika kota lain sibuk dengan keriuhan di jalanan, Aceh menawarkan ketenangan bagi warganya untuk menata ulang arah hidup dan memaknai kehidupan lebih dalam.


Maka, alih-alih meratapi ketiadaan kembang api malam tahun baru, ada resolusi nyata yang bisa kita tawarkan sebagai pengganti perayaan tersebut yaitu resolusi hijrah karakter. Islam mengajarkan kita mengamalkan syari’at dan hukum Allah dalam kehidupan. Karakter ini dapat dibangun dan dibenahi melalui disiplin, taat aturan, menjalankan ibadah sesuai tuntunan, serta berbuat baik dan adil dalam berhubungan sosial. Pertama, sebagai warga Aceh yang menjalankan Syari’at Islam di negerinya, sudah seharusnya kita membiasakan disiplin dalam menunaikan shalat lima waktu. Dengan disiplin menghadap Sang Pencipta tepat waktu, maka disiplin dalam hal kerja maupun pendidikan akan mengikuti dengan sendirinya.


Kedua, taat aturan. Sebuah aturan lahir biasanya untuk menjaga ketertiban dan kemaslahatan bersama. Sebagai manusia yang dianugerahi akal sehat, kita patut mengindahkan aturan yang telah ditetapkan seperti salah satunya menutup aurat. Banyak dijumpai khususnya di Banda Aceh laki-laki menggunakan celana pendek saat berada di luar, warkop, tempat olahraga, dan tempat publik lainnya. Sebagian orang menganggap hal ini biasa, sementara yang lain risih menganggap itu merupakan anjuran seorang muslim untuk menutup aurat. Melihat aurat yang terbuka menimbulkan ketidaknyamanan spiritual dan visual. Terlebih dalam adat Aceh, cara berpakaian mencerminkan kehormatan seseorang. Dalam komunikasi, setiap simbol memiliki makna. Bahkan yang lebih mirisnya, amatan penulis penggunaan celana pendek bagi laki-laki yang ke luar rumah sudah merata seluruh Aceh, sungguh ironi sekali negeri syariat ini. Untuk itu, mari kita gunakan momen ini untuk memperbaiki diri dengan sadar akan anjuran menutup aurat di tempat umum.


Ketiga, menjalankan ibadah sesuai tuntunan. Ini bisa dilakukan dengan memperbaiki bacaan Al-Quran dengan baik dan benar. Mempelajari makhraj dan ilmu tajwid agar bacaan Al-Quran jadi tepat dan bagus serta makna pun benar. Konon sekarang anak-anak penerus bangsa khususnya Aceh masih kurang dalam kualitas bacaan Al-Quran, dan bahkan ada yang sudah lulus kuliah tidak bisa mengaji. Kenapa hal ini bisa terjadi? Bila diamati mereka lahir dan tumbuh dalam gempuran gadget yang canggih dan berteknologi mutakhir. Konsentrasi mereka mudah terpecah, untuk mengaji perlu fokus dan pengulangan agar membekas dan tidak mudah lupa. Sementara bermain gadget seperti game online, konten video pendek di media sosial menawarkan kesenangan instan yang membuat aktivitas belajar yang serius terasa membosankan. Dalam istilah sekarang dikenal dengan digital dopamine, konten dan game menawarkan kesenangan instan kepada otak sehingga membuat anak-anak menjadi candu. Mungkin ini menjadi “PR” bagi orang tua untuk terus memantau dan membatasi penggunaan gadget tersebut. Terlebih gadget sekarang sudah ada fitur kontrol orang tua. Orang tua bisa memilih dan membatasi aktivitas apa yang layak dimainkan pada gadget serta bisa mengatur waktu penggunaannya. Aktivitas yang dilakukan kemudian terintegrasi memunculkan notifikasi pada perangkat orang tua melalui email. Ini menjadi resolusi bagi orang tua agar bisa memantau aktivitas anak saat di luar jangkauan mereka. Selain itu, orang tua harus membudayakan mengaji di rumah, karena pendidikan agama pertama seharusnya ada di meja makan atau ruang tamu rumah sendiri.


Keempat, berbuat baik dan adil dalam berhubungan sosial. Di tengah masyarakat yang heterogen, kedisiplinan beragama harus melahirkan sifat adil dan baik kepada sesama. Adil berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya, dan berbuat baik berarti memberi manfaat lebih dari sekadar kewajiban. Di era algorima media sosial yang beragam, resolusi kita adalah cermat dalam menerima informasi (tabayyun). Jangan mudah menghakimi sesuatu tanpa ada kebenaran. Keadilan sosial dimulai dari lisan dan jemari kita dalam berinteraksi. Jika kita ingin dihormati dalam menjalankan kekhususan daerah kita, maka kita pun harus adil dalam menghargai hak-hak sesama dalam bingkai kemanusiaan dan ukhuwah.


Pada akhirnya, malam pergantian tahun di langit Aceh memang tidak dihiasi oleh ledakan petasan dan kembang api, namun ia harus tetap "menyala" dengan semangat perbaikan diri. Menjalankan otonomi khusus bukan sekadar menjaga pagar regulasi agar orang lain tidak melanggar, melainkan tentang bagaimana kita, sebagai penghuninya, mendisiplinkan diri untuk menjadi teladan yang baik.


Jika fenomena celana pendek mulai lumrah hingga ke pelosok Aceh, atau jika gadget mulai menggeser lantunan Al-Qur'an di rumah-rumah kita, itu adalah alarm bahwa "pagar" kita sedang rapuh dari dalam. Resolusi hijrah karakter yang dapat ditawarkan berupa disiplin, taat aturan, memperbaiki bacaan Al-Qur'an, dan bersikap adil adalah upaya memperkuat kembali fondasi Serambi Mekkah.


Mari kita buktikan bahwa sunyinya malam tahun baru di Aceh adalah sunyi yang berisi. Sebuah kesunyian yang memberikan ruang bagi setiap jiwa untuk berbisik kepada Sang Pencipta, merancang strategi untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat, dan memastikan bahwa tahun depan, Aceh akan menjadi daerah yang lebih tertib, lebih religius, dan lebih maju. Karena sesungguhnya, perubahan besar sebuah bangsa selalu dimulai dari disiplin kecil yang kita bangun dalam diri sendiri.

ESC

Tidak ditemukan hasil untuk ""