Islam 05 March 2026 4 Menit Baca

Telaah Makna اَسْفَارًا dalam Al-Qur’an

Author
Vini Nur Zikra, S.H.

Penyuluh Agama pada Kantor Urusan Agama Alafan Kabupaten Simeulue

Ringkasan

"Tulisan ini menjelaskan bahwa Al-Qur’an disebut اَسْفَارًا karena ia adalah kitab yang membuka. Melalui perumpamaan dalam QS. Al-Jumu‘ah: 5, Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak sekadar memikul kitab tanpa memahami dan mengamalkannya. Akar kata asfār bermakna keterbukaan, sebagaimana perjalanan (safar), waktu Subuh (asfara), dan wajah-wajah yang berseri (musfirah), yang semuanya menggambarkan tersingkapnya cahaya. Al-Qur’an membuka pintu kebaikan dan rahmat, mengantarkan pembacanya menuju tingkatan surga, melunakkan hati yang tertutup, serta menjernihkan pikiran sehingga mudah menerima kebenaran. Pada akhirnya, kedekatan dengan Al-Qur’an menentukan sejauh mana hidup menjadi lapang dan terang—karena ketika kitab itu dibuka, hati dan jalan hidup pun ikut terbuka."

Telaah Makna اَسْفَارًا dalam Al-Qur’an

﴿مَثَلُ الَّذِيْنَ حُمِّلُوا التَّوْرٰىةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوْهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ اَسْفَارًاۗ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ﴾

Artinya: Perumpamaan orang-orang yang dibebani tugas mengamalkan Taurat, kemudian tidak mengamalkannya, adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal tanpa memahami isinya. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.

 

Allah mengistilahkan kitab—termasuk Al-Qur’an—dengan kata اَسْفَارًا. Jika ditelaah lebih dalam, akar kata ini bermakna terbuka atau menyingkap. Istilah safar (perjalanan) juga berasal dari akar yang sama, karena perjalanan dilakukan di alam terbuka dan sering kali membuka sifat asli manusia. Demikian pula waktu Subuh, yang dalam Al-Qur’an disebut dengan أَسْفَرَ, bermakna terang dan terbuka. Pada waktu inilah para malaikat menyaksikan manusia yang beribadah, sehingga pintu-pintu kebaikan pun terbuka.

 

QS. ‘Abasa ayat 38–39 menggunakan istilah مُّسْفِرَةٌ, menggambarkan wajah-wajah yang berseri dan terbuka karena kebahagiaan. Kebahagiaan ini tentu lahir dari hati dan pikiran yang terbuka. Bahkan, tak jarang dompet pun ikut “terbuka” (traktir teman), sebab orang yang bahagia biasanya ringan berbagi. Maka, jika ingin meminta uang kepada suami, perhatikan dulu ekspresinya: apakah sedang tampak bahagia? Wkwkw J

 

Lalu, mengapa Allah mengumpamakan Al-Qur’an dengan اَسْفَارًا? Berikut beberapa penjelasannya:

1.   Al-Qur’an membuka pintu kebaikan

QS. Al-Isra’ ayat 82 menyebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ, obat dan rahmat bagi manusia. Nabi Adam ‘alaihis salam pun memohon rahmat Allah dalam doanya (QS. Al-A‘raf: 23), karena tanpa rahmat-Nya manusia akan termasuk orang-orang yang merugi. Para Ashabul Kahfi juga memohon rahmat Allah (QS. Al-Kahfi: 10). Bahkan setiap kali seorang hamba memasuki masjid, doa yang dipanjatkannya adalah permohonan agar Allah membuka pintu rahmat-Nya.

2.   Al-Qur’an membuka pintu surga

Al-Qur’an disebut membuka pintu surga karena setiap ayat yang dibaca, dipahami, dan diamalkan menjadi anak tangga menuju derajat yang lebih tinggi di sisi Allah. Hal ini ditegaskan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma:

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

Artinya : Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) Al-Qur’an: “Bacalah dan naiklah, serta tartillah sebagaimana engkau mentartilnya di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu di surga sesuai dengan ayat terakhir yang engkau baca.”

 

Hadits ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan hanya bacaan lisan, melainkan pembuka jalan menuju surga. Kata “naiklah” (وَارْتَقِ) menegaskan bahwa surga memiliki tingkatan, dan Al-Qur’anlah yang membuka satu demi satu tingkat tersebut. Semakin dekat seseorang dengan Al-Qur’an di dunia—dengan membaca, memahami, dan mengamalkannya—semakin terbuka pula pintu-pintu surga baginya di akhirat.

 

Dengan demikian, Al-Qur’an layak disebut اَسْفَارًا, kitab yang membuka, karena ia tidak hanya membuka lembaran ayat, tetapi juga membuka pintu-pintu kemuliaan dan keabadian bagi para pengamalnya.

 

3.   Al-Qur’an membuka hati yang tertutup oleh kekufuran

Hati manusia dapat tertutup oleh berbagai lapisan: kesombongan, kebencian, kebiasaan buruk, bahkan kekufuran. Al-Qur’an hadir sebagai pembuka penutup hati tersebut. Kisah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menjadi bukti nyata. Sosok yang dikenal keras dan menentang Islam itu justru dilunakkan hatinya oleh beberapa lembar Al-Qur’an yang dibaca oleh Fathimah binti Khattab, yaitu QS. Thaha ayat 1–5.

 

Ayat-ayat tersebut tidak sekadar dibaca, tetapi menyingkap tabir hati Umar. Dari hati yang tertutup menjadi terbuka, dari penolakan berubah menjadi penerimaan, hingga akhirnya melahirkan keimanan yang kokoh. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memiliki daya kasyf (menyingkap) yang mampu membuka hati paling keras sekalipun.

 

Karena itulah, Al-Qur’an disebut اَسْفَارًا—kitab yang membuka. Ia membuka hati dari gelap menuju terang, dari kesesatan menuju hidayah. Selama seseorang masih mau membuka dirinya kepada Al-Qur’an, selalu ada celah bagi cahaya petunjuk untuk masuk.

 

4.   Al-Qur’an membuka pintu kecerdasan

QS. Al-Waqi‘ah ayat 77–79 menyebutkan bahwa Al-Qur’an disentuh oleh orang-orang yang disucikan. Hati dan pikiran yang suci akan lebih mudah menerima kebenaran, sehingga ilmu pun mudah diserap. QS. Al-Qamar ayat 17, 22, 32, dan 40 juga menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah الذِّكْر (pengingat). Ingatan menjadi kuat dan jernih karena hati yang bersih. Membaca Al-Qur’an secara rutin menjadikan akal dan pikiran semakin terbuka, sehingga lebih mudah belajar dan menerima kebenaran.

 

Penutup

Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dipikul atau diwariskan, melainkan kitab yang membuka. Ia membuka jalan kebaikan, menyingkap pintu surga, melapangkan hati, dan menjernihkan pikiran. Siapa pun yang berani membuka lembarannya dengan kesungguhan, akan mendapati bahwa yang sebenarnya terbuka bukan hanya ayat-ayatnya, tetapi juga dirinya sendiri.

Pada akhirnya, jarak kita dengan Al-Qur’an sering kali bukan soal kemampuan, melainkan soal kemauan untuk membuka. Sebab ketika Al-Qur’an dibiarkan tetap tertutup, hidup pun kerap terasa sempit. Namun saat ia dibuka—meski perlahan—akan selalu ada cahaya yang menemukan jalannya masuk. 


ESC

Tidak ditemukan hasil untuk ""