Edukasi 06 March 2026 12 Menit Baca

Ayat Kauniyah dan Sains Modern: Perspektif Maurice Bucaille

Author
Annisa Shabirah Hajar, S.H.

Penyuluh Agama pada Kantor Urusan Agama Salang Kabupaten Simeulue

Ringkasan

"Ayat-ayat kauniyah dalam Al-Qur’an tidak hanya mengajak manusia merenungi ciptaan Allah, tetapi juga membuka ruang dialog antara wahyu dan ilmu pengetahuan. Salah satu tokoh yang mengangkat hubungan ini ke ranah ilmiah adalah Maurice Bucaille, seorang dokter asal Prancis yang meneliti keselarasan Al-Qur’an dengan temuan sains modern. Melalui kajiannya, Bucaille menunjukkan bahwa pernyataan Al-Qur’an tidak bertentangan dengan sains, bahkan dalam banyak hal justru mendahului pengetahuan manusia. Pemikirannya menginspirasi cara baru memahami Al-Qur’an—lebih ilmiah, rasional, dan relevan dengan perkembangan zaman."

Al-Qur’an merupakan kitab suci yang tetap relevan sepanjang masa, namun penafsirannya dapat berkembang sesuai konteks karena merupakan produk pemikiran manusia. Pada era modern, kajian Al-Qur’an melibatkan berbagai disiplin ilmu dan metode analisis baru, hal ini lahir dari kesadaran bahwa Al-Qur’an memiliki posisi sentral dalam membimbing umat menuju kebangkitan peradaban. Syekh Muhammad bin Jamil Zainu dalam makalahnya yang berjudul “Min Khaṣaiṣ Al-Qur’an al-Karim” menyebutkan bahwa di antara keistimewaan Al-Qur’an adalah Al-Qur’an mencakup semua kebutuhan dalam hidup manusia, baik itu aqidah, ibadah, hukum, mu’amalah, akhlak, politik, ekonomi, dan lain sebagainya. Sementara M. Quraish Shihab menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah kitab hidayah yang memberikan petunjuk kepada manusia demi kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat dan terbukti selaras dengan pengetahuan ilmiah, seperti proses penciptaan manusia dalam surah al-Mu’minun ayat 12–14.


Kemunduran peradaban Islam pada abad ke-18, beriringan dengan kemajuan pesat ilmu pengetahuan di Eropa, mendorong umat Islam untuk kembali mengkaji Al-Qur’an melalui pendekatan saintifik. Analisis ilmiah terhadap ayat-ayat kauniyah dipandang sebagai upaya untuk mengejar ketertinggalan sekaligus menunjukkan bahwa Al-Qur’an mengandung petunjuk yang sejalan dengan fenomena alam. Perkembangan ini kemudian meluas tidak hanya di kalangan sarjana Muslim, tetapi juga di antara para orientalis Barat yang membawa metode kritis dan kajian komparatif.


Salah satu tokoh yang berpengaruh dalam kajian ini adalah Maurice Bucaille. Melalui karyanya La Bible, le Coran et la Science, ia melakukan studi perbandingan antara Bible dan Al-Qur’an dalam kaitannya dengan temuan-temuan sains modern. Bucaille menunjukkan bahwa Al-Qur’an konsisten dengan data ilmiah dan tidak mengandung kontradiksi, sehingga memperkuat pandangan bahwa wahyu dan sains merupakan dua sumber pengetahuan yang saling melengkapi. Pendekatan ini sekaligus merefleksikan gagasan kesatuan ilmu dalam memahami ayat-ayat kauniyah.

 

Biografi Maurice Bucaille

Maurice Henri Jules Bucaille (1920–1998) adalah seorang dokter bedah gastroenterologi asal Prancis yang dikenal luas karena reputasinya di dunia medis. Setelah menempuh pendidikan kedokteran, ia menjadi salah satu ahli bedah terkemuka di Prancis[1] dan dipercaya menjadi dokter keluarga Raja Faisal bin Abdulaziz al-Saud serta keluarga Presiden Mesir Ketiga yaitu Anwar el-Sadat.[2] Pada tahun 1974, Bucaille memperoleh kesempatan meneliti mumi Fir’aun di Kairo. Penelitiannya kemudian dilanjutkan di Paris setelah Mesir memberikan izin resmi.[3] Temuan-temuan ilmiah mengenai kondisi mumi tersebut menimbulkan banyak pertanyaan dalam benaknya, terutama terkait kesesuaian antara hasil penelitian dengan penjelasan Al-Qur’an dalam surah Yunus ayat 92. Pencariannya terhadap rujukan lain dalam Injil dan Taurat tidak memberikan jawaban yang memuaskan, sehingga mendorongnya menelaah Al-Qur’an secara lebih serius.[4]


Hasil penelitiannya tentang mumi Fir’aun diterbitkan dalam buku Les Momies des Pharaons et la Médecine, yang kemudian mengantarkannya meraih penghargaan dari Académie française dan Académie Nationale de Médecine[5]. Penelitian tersebut menjadi titik balik dalam perjalanan intelektual Bucaille hingga akhirnya ia menulis karya monumentalnya, La Bible, le Coran et la Science (1976). Dalam buku ini, ia menyimpulkan bahwa Al-Qur’an tidak bertentangan dengan sains modern, bahkan lebih sejalan dibandingkan narasi Bible. Selain karya tersebut, Bucaille juga menulis beberapa buku penting lainnya seperti Réflexions sur le Coran (Reflections on the Koran), L'homme d'où vient-il? Les réponses de la science et des Écritures Saintes (Where does Man Come From? The Responses of Science and Scripture), What is the Origin of Man? The Answers of Science and the Holy Scriptures (1984), dan Moïse et Pharaon; Les Hébreux en Egypte (Moses and Pharaoh, The Hebrews in Egypt) Quelles concordances de Livres saints avec l'Histoire.

 

Metode Penafsiran Ayat-Ayat Kauniyah Maurice Bucaille

Menurut Fazlurrahman, karya-karya sarjana non Muslim di bidang studi Al-Qur’an di masa awal dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu kajian pengaruh Yahudi atau Kristen dalam Al-Qur’an, kajian kodifikasi Al-Qur’an, dan kajian ayat Al-Qur’an. Pendekatan yang digunakan dalam kajian tersebut umumnya menggunakan pendekatan kritis-positifistik.[6] Sehingga tidak dapat dihindari muncul polemik di kalangan umat Islam karena berbeda dengan pemahaman konvensional yang telah dianut sejak lama. Namun demikian, dari kajian-kajian tersebut dapat memberi pengaruh terhadap kajian Al-Qur’an kontemporer.


Dalam konteks perkembangan ini, gagasan Maurice Bucaille dalam karyanya La Bible, le Coran et la Science memberikan pengaruh besar terhadap cara pandang ilmuwan Muslim abad ke-21 terhadap integrasi Al-Qur’an dan sains. Bucaille menekankan bahwa penafsiran ayat-ayat kauniyah tidak dapat dilakukan hanya bermodalkan kemampuan bahasa Arab, tetapi membutuhkan dukungan berbagai cabang ilmu sebagai perangkat analisis.[7] Pandangan ini berkaitan dengan konsep islamisasi pengetahuan, yaitu usaha memahami ayat-ayat yang berhubungan dengan fenomena alam melalui pemanfaatan filsafat ilmu serta integrasi pengetahuan secara menyeluruh. Pendekatan tafsir kauniyah pada dasarnya bergerak dari konteks menuju teks, dimana proses relasi Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan dikaitkan dengan konteks.[8]


Secara umum, penafsiran ayat-ayat sains dapat dibedakan menjadi tiga fungsi[9]:

  • Fungsi al-tabyin, yaitu menjelaskan teks Al-Qur’an dengan perangkat ilmu pengetahuan dan atau teknologi yang dikemukakan oleh penafsirnya, dalam konteks perkembangan ilmu. Namun, fungsi ini memiliki kekurangan yaitu seringnya terjadi ketidaksingkronan antar ayat yang dipilih dengan tema sains yang dijelaskan.
  • Fungsi i’jāz, yaitu pembuktian atas kebenaran teks Al-Qur’an menurut teori ilmu pengetahuan yang selanjutnya dapat memberikan stimulan bagi para ilmuwan untuk menelitinya. Akan tetapi, fungsi ini dapat menjadi justifikasi bahwa ayat Al-Qur’an adalah sumber ilmu pengetahuan, dengan kenyataan bahwa teori sains lebih dulu muncul dari isi penafsirannya yang dikaitkan dengan ayat tertentu.
  • Fungsi istikhrāj al-‘ilm yaitu hasil penafsiran atas ayat Al-Qur’an mampu memberikan isyarat bagi lahirnya teori ilmu pengetahuan. Namun hal ini masih sulit dilakukan karena penafsir harus benar-benar menguasai ilmu tafsir dan juga ilmu sains terkait bidang yang ingin dibahas.


Maurice Bucaille meneliti kesesuaian antara Al-Qur’an dan sains modern dengan pendekatan objektif dan tanpa prasangka. Ia memulai kajiannya melalui pembacaan terjemahan Al-Qur’an, lalu memperdalam analisisnya setelah menemukan banyak isyarat fenomena ilmiah dalam teks. Melalui penelitian yang lebih teliti, ia menyimpulkan bahwa Al-Qur’an tidak mengandung pernyataan yang bertentangan dengan temuan ilmiah kontemporer.


Dalam bukunya La Bible, le Coran et la Science, Bucaille menata kajian ayat-ayat kauniyah berdasarkan tema-tema besar, seperti penciptaan langit dan bumi, astronomi, fenomena alam, tumbuhan dan hewan, serta reproduksi manusia. Ia kemudian menggunakan pendekatan semantik untuk memahami makna literal ayat dan menghubungkannya dengan ilmu pengetahuan modern yang ia kuasai. Jika dikaitkan dengan kategori tafsir ilmiah, metode Bucaille tidak termasuk fungsi istikhrāj al-‘ilm karena ia tidak mendalami disiplin tafsir secara mendalam. Namun, pendekatannya jelas berada dalam fungsi al-tabyin, yakni menjelaskan ayat dengan perangkat sains, serta fungsi i’jāz, yakni menunjukkan kemukjizatan Al-Qur’an melalui kesesuaiannya dengan ilmu pengetahuan modern. Hal ini tercermin dalam pernyataannya yang tegas:

“Perbandingan beberapa riwayat Bibel dengan riwayat Qur’an tentang hal yang sama menunjukkan adanya perbedaan fundamental antara pernyataan Bibel yang tidak dapat diterima secara ilmiah dengan pernyataan Qur’an yang sesuai sepenuhnya dengan sains modern.”

 

Penafsiran Maurice Bucaille Terhadap Ayat-Ayat Kauniyah

Ayat-ayat kauniyah mengenai penciptaan alam secara tidak langsung telah menunjukkan tentang hal-hal yang ada di langit, yaitu segala sesuatu yang berada di luar planet tempat tinggal manusia, yakni Bumi. Selain ayat-ayat yang khusus menggambarkan tentang penciptaan, setidaknya terdapat sekitar 40 ayat Al-Qur’an yang membahas tentang astronomi, dimana sebagian ayat-ayat tersebut merupakan renungan terhadap sang Pencipta dan Pengatur Seluruh Alam Semesta.[10] Berikut beberapa contoh ayat-ayat kauniyah yang dikaji oleh Maurice Bucaille:


Penafsiran Surah al-Furqan ayat 61, Nuḥ ayat 16, dan an-Naba´ ayat 13

 

تَبٰـرَكَ الَّذِىۡ جَعَلَ فِى السَّمَآءِ بُرُوۡجًا وَّجَعَلَ فِيۡهَا سِرٰجًا وَّقَمَرًا مُّنِيۡرًا‏ ٦١


“Mahasuci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang-bintang dan Dia juga menjadikan padanya matahari dan bulan yang bersinar.” (Q.S. al-Furqan/25: 61).

 

وَجَعَلَ ٱلْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ ٱلشَّمْسَ سِرَاجًا

“Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?” (Q.S. Nuḥ/71: 16).

 

وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا

“Dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari).” (Q.S. an-Naba´/78: 13).

 

Matahari dalam Al-Qur’an memiliki makna bersinar (ضِيَاۤءً), sedangkan Bulan berarti cahaya (نُوْرًا). Menurut Bucaille, Matahari yang diumpamakan sebagai سِرٰجًا (obor) atau وَّهَّاجًا (lampu yang menyala) menunjukkan tidak ada perbandingan dalam teks Al-Qur’an yang turun di masa lalu dengan apa yang kita lihat dan ketahui di masa sekarang. Diketahui bahwa Matahari merupakan bintang yang menghasilkan panas dan cahaya yang intens melalui pembakaran internalnya. Begitu pula dengan Bulan yang tidak memancarkan cahayanya sendiri, namun ia memantulkan cahaya yang diterimanya dari Matahari.[11]

Penafsiran Surah aṭ-Ṭariq ayat 1-3

وَالسَّمَآءِ وَالطَّارِقِۙ‏ ١ وَمَاۤ اَدۡرٰٮكَ مَا الطَّارِقُۙ‏ ٢ النَّجۡمُ الثَّاقِبُۙ‏ ٣


“Demi langit dan yang datang pada malam hari. Dan tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? (Yaitu) bintang yang bersinar tajam.” (Q.S. aṭ-Ṭariq/86: 1-3).


Bintang-bintang merupakan benda langit yang memiliki cahayanya sendiri. Bintang atau dalam Bahasa Arab نَجْم (jamak: بُرْجُ) yang berarti nampak telah disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 13 kali. Namun, kata ini tidak menunjukkan apakah benda langit tersebut benar memancarkan cahayanya sendiri atau ia menerima cahaya dari luar. Berdasarkan surah aṭ-Ṭariq ayat 1-3 di atas, diketahui bahwa bintang di malam hari diberi sifat oleh Al-Qur’an dengan kata الثَّاقِبُۙ‏ yang artinya adalah membakar, yakni membakar dirinya sendiri dan menembus kegelapan waktu malam.[12] Bintang yang tembus dalam pendekatan saintik dapat disebut dengan kata lain yaitu ultra compact neutron stars, yang dikenal sebagai (bintang berdenyut) atau (pulsar), yang merupakan bintang dengan kepadatan dan gravitasi super dan berukuran kecil. Oleh sebab itu, ia berputar pada porosnya dengan kecepatan tinggi, melepaskan gelombang radio dalam jumlah besar. Ia lalu juga dikenal sebagai "pulsar radio" dan karena mengirimkan pulsa radiasi radio reguler per detik.[13]


Penafsiran Surah an-Nur ayat 35 dan Surah as-Ṣaffat ayat 6

اَللّٰهُ نُوۡرُ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ ​ؕ مَثَلُ نُوۡرِهٖ كَمِشۡكٰوةٍ فِيۡهَا مِصۡبَاحٌ​ ؕ الۡمِصۡبَاحُ فِىۡ زُجَاجَةٍ​ ؕ اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوۡكَبٌ دُرِّىٌّ يُّوۡقَدُ مِنۡ شَجَرَةٍ مُّبٰـرَكَةٍ زَيۡتُوۡنَةٍ لَّا شَرۡقِيَّةٍ وَّلَا غَرۡبِيَّةٍ ۙ يَّـكَادُ زَيۡتُهَا يُضِىۡٓءُ وَلَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡهُ نَارٌ​ ؕ نُوۡرٌ عَلٰى نُوۡرٍ​ ؕ يَهۡدِى اللّٰهُ لِنُوۡرِهٖ مَنۡ يَّشَآءُ​ ؕ وَ يَضۡرِبُ اللّٰهُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ​ؕ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيۡمٌ ۙ‏ ٣٥

“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus,1 yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang bercahaya sepeti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat,2 yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. an-Nur/24: 35).

 

اِنَّا زَيَّنَّا السَّمَآءَ الدُّنۡيَا بِزِيۡنَةِ اۨلۡكَوَاكِبِۙ‏ ٦

"Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan yaitu planet-planet.” (Q.S. as-Ṣaffat/37: 6).


Maurice Bucaille menyebutkan bahwa sukar untuk mengatakan kata planet disebut di dalam Al-Qur’an dengan arti yang tepat yang sesuai dengan apa yang kita ketahui sekarang. Planet merupakan benda langit yang beredar mengelilingi Matahari dan tidak bercahaya. Sejak zaman dahulu, manusia telah mengenal planet lain selain Bumi, seperti Merkurius, Venus, Mars, Yupiter dan Saturnus. Kemudian ditemukan tiga planet lain yaitu Uranus, Neptunus, dan Pluto.[14] Namun, pada tahun 2006, International Astronomical Union (IAU) membuat keputusan yang kontroversial untuk mendefinisikan ulang kata "planet", dan akibatnya Pluto diturunkan statusnya menjadi planet kerdil.[15]


Lebih lanjut, Maurice Bucaille berpandangan bahwa Al-Qur’an mungkin menamakan planet dengan istilah Kaukab dengan bentuk jamak Kawakib. Namun berapa jumlahnya tidak disebutkan. Menurutnya apa yang dimaksud dalam surah an-Nur ayat 35 adalah proyeksi cahaya kepada suatu benda yang merefleksikan (kaca) dengan memberinya kilatan mutiara, sebagaimana planet yang disinari oleh Matahari. Sementara itu dalam surah as-Ṣaffat ayat 6, kalimat langit yang terdekat memiliki makna sistem Matahari, dimana seperti yang ditemukan dalam sains bahwa di antara benda-benda langit yang terdekat dengan Matahari, tidak lain adalah planet. Sehingga sudah benar jika kawakib diartikan sebagai planet.[16]


Penafsiran Surah aẓ-Ẓariyat ayat 47

 

وَ السَّمَآءَ بَنَيۡنٰهَا بِاَيۡٮدٍ وَّاِنَّا لَمُوۡسِعُوۡنَ‏ ٤٧


“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan Kami, dan Kami meluaskannya.”

(Q.S. aẓ-Ẓariyat/51: 47).


Perluasan Alam Semesta atau ekspansi kosmos merupakan salah satu penemuan paling mengesankan dalam ilmu pengetahuan modern, dimana saat ini, konsep tersebut telah diterima secara luas. Pertama kali diusulkan oleh teori relativitas umum, ide ini didukung oleh pengamatan fisika melalui spektrum galaksi. Pergerakan galaksi menuju bagian merah spektrum mereka menunjukkan bahwa jarak antar galaksi semakin jauh, mengindikasikan bahwa ukuran Alam Semesta terus meningkat. Proses ekspansi ini menyebabkan kecepatan galaksi bervariasi, dari kecepatan cahaya ke kecepatan yang mungkin lebih cepat dari itu.[17]


Dalam konteks ini, Surah 51 ayat 47 berbicara tentang langit yang mungkin relevan: "Surga, Kami telah membangunnya dengan kekuatan. Sungguh, Kami sedang memperluasnya." Istilah 'surga' merujuk pada kata sama' yang berarti dunia luar angkasa, sementara frasa 'Kami sedang memperluasnya' berasal dari kata kerja ausa'a, yang berarti 'memperluas.' Beberapa penerjemah, seperti R. Blachère, mengartikan frasa ini dengan cara yang keliru, seperti “kami memberi dengan murah hati.” Di sisi lain, Hamidullah mencatat makna tersebut tetapi ragu untuk berkomitmen, sedangkan beberapa komentar, seperti yang terdapat dalam buku Muntakab yang disunting oleh Dewan Tertinggi Urusan Islam di Kairo, secara jelas merujuk pada perluasan Alam Semesta dengan istilah yang tidak ambigu. Hal ini menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara pemahaman ilmiah modern dan penggambaran yang terdapat dalam Al-Qur'an.[18]

 


[1] “Maurice Bucaille,” Quran and Science, 2009, https://quranandscience.com/discover-islam/embracing-islam/new-muslim-stories/273-maurice-bucaille.

[2] https://en.wikipedia.org/wiki/Maurice_Bucaille.

[3] Clyde H. Farnsworth, “Paris Mounts Honor Guard For a Mummy,” The New York Times, 1976, https://www.nytimes.com/1976/09/28/archives/paris-mounts-honor-guard-for-a-mummy.html,

[4] “Maurice Bucaille,” Quran and Science, 2009, https://quranandscience.com/discover-islam/embracing-islam/new-muslim-stories/273-maurice-bucaille.

[5] Khoirul Amri, Muhammad Nazir, and Sri Muharyati, “Tafsir Ilmiah Al- Qur ’ an Mariuce Bucaille,” Journal of Islamic Education El Madani 3, no. 2 (2024): 98, https://doi.org/10.55438/jiee.v3i2.102.

[6] Affani, Tafsir Al-Qur’an Dalam Sejarah Perkembangannya, 237.

[7] Muhammad Fadli Rahman Aulia, “Metode Tafsir Muqaran: Kajian Terhadap ‘La Bible, Le Coran Et La Science ’ Karya Maurice Bucaille,” Definisi: Jurnal Agama Dan Sosial Humaniora 2, no. 2 (2023), 126.

[8] Andi Rosa, Islam Dan Sains Dalam Kajian Epistemologi Tafsir Al-Qur’an: Al-Tafsir Al-’Ilmi Al-Kauni, 1st ed. (Serang: A-Empat dan LP2M UIN Banten, 2021), 8-10.

[9] Andi Rosa, Islam Dan Sains Dalam Kajian Epistemologi Tafsir Al-Qur’an: Al-Tafsir Al-’Ilmi Al-Kauni, 1st ed. (Serang: A-Empat dan LP2M UIN Banten, 2021), 10-11.

[10] Bucaille, 169.

[11] Bucaille, 175.

[12] Bucaille, 176.

[13] Zaghlul Al-Najjar, Tafsīr Āyah Al-Kawniyyah Fī Al-Qur’an Al-Karīm, Jilid 4 (Kairo: Maktabahal-Suruq al-Dawliyyah, 2008), 405.

[14] Bucaille, Bibel, Qur’an, Dan Sains Modern, 176-177.

[15] Ade S, “Mengapa Pluto Tidak Lagi Dianggap Sebagai Planet Dalam Tata Surya?,” National Geographic Indonesia, 2024, https://nationalgeographic.grid.id/read/134091455/mengapa-pluto-tidak-lagi-dianggap-sebagai-planet-dalam-tata-surya?page=all.

[16] Bucaille, Bibel, Qur’an, Dan Sains Modern, 177-178.

[17] Bucaille, 188.

[18] Maurice Bucaille, The Bible The Qurʾan and Science (Kairo: Dar Al Ma’arif, 1989), 111-112.


ESC

Tidak ditemukan hasil untuk ""