Islam 04 March 2026 2 Menit Baca

Nongkrong Sambil Makan Daging

Author
Muhammad Asyraf, Lc.

Penghulu pada Kantor Urusan Agama Salang Kabupaten Simeulue

Ringkasan

"Tulisan ini menyoroti kebiasaan berkumpul atau nongkrong (ngopi) yang umum dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di masyarakat Aceh, sebagai sarana silaturahmi, keakraban, dan pelepas penat. Namun, tongkrongan yang awalnya bernilai positif dapat kehilangan makna ketika diisi dengan pembicaraan tidak bermanfaat, seperti ghibah dan bahkan fitnah."

Berkumpul dengan kawan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari di aktifitas kita. Di sana terjalin silaturahmi, tercipta keakraban dan terbangun rasa kebersamaan. Terlebih lagi, sebagai masyrakat Aceh ‘ngopi’ sudah menjadi sebutan untuk berjumpa dan nongkrong ringan di pagi hari, atau sebagai teman kerja di kantor bisa menjadi selingan saat pekerjaan selesai maupun cara healing ketika penat kerja.


Namun tongkrongan yang awalnya dapat menumbuh perbincangan yang bermanfaat, tumbuh ide dan saling menukar pikiran, akan kehilangan nilai jika diisi dengan pembicaraan yang tidak bermanfaat, ghibah, parahnya terkadang diisi dengan cerita yang mengada-ada akan saudaranya (fitnah) .


Ghibah adalah membicarakan keburukan atau aib seseorang di belakangnya, meskipun hal itu benar dan orang yang dibicarakan tidak suka jika hal itu disampaikan. Dalam Islam, setiap lisan akan dimintai pertanggungjawaban. Ghibah bukan hanya merusak pahala, tetapi juga merusak persaudaraan. Sering kali, ghibah dianggap hal biasa karena dibungkus dengan candaan atau cerita ringan, padahal dampaknya sangat besar bagi diri sendiri dan orang lain bahkan diibaratkan seperti memakan daging saudara sendiri yang sudah mati.


Di surah al-Hujurat ayat 12 Allah berfirman, yang artinya;

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah menggunjing (ghibah) satu sama lain. Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”


Tongkrongan yang baik adalah tongkrongan yang membawa manfaat. Obrolannya menenangkan hati, menambah wawasan, dan mempererat persaudaraan. Kita bisa berbagi pengalaman hidup, saling memberi motivasi, bertukar pikiran tentang usaha, keluarga, pendidikan, atau sekadar berbincang hal-hal ringan yang tidak melanggar adab.

Jika pembicaraan mulai mengarah pada ghibah, maka sikap terbaik adalah mengalihkan topik, mengingatkan dengan cara yang halus, atau memilih diam. Diam dalam kebaikan lebih mulia daripada berbicara namun melukai.


Jangan sampai di saat ngopi bersama teman malah sambil makan ‘daging’. Mari jadikan tongkrongan sebagai sarana menjaga silaturahmi, memperbaiki diri, dan menebar kebaikan. Karena pertemanan yang baik bukan diukur dari lamanya berkumpul, tetapi dari manfaat yang ditinggalkan setelah berpisah.


ESC

Tidak ditemukan hasil untuk ""