Berita dan Informasi 06 March 2026 4 Menit Baca

AL-QARAWYYIEN: HARTA KARUN DI KOTA TUA

Author
Rifqi Hidayatil, Lc.

Penghulu pada Kantor Urusan Agama Teupah Selatan Kabupaten Simeulue

Ringkasan

"Fez merupakan salah satu kota tertua di Maroko yang dibangun pada abad ke-8 M di kawasan gersang yang dikelilingi perbukitan tinggi, kemudian berkembang menjadi pusat kehidupan sosial dan keilmuan masyarakat. Kota tua Fez (Fez el-Bali) diakui UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia dan dikenal sebagai salah satu kawasan pejalan kaki perkotaan terbesar di dunia yang bebas kendaraan. Fez mencapai puncak kejayaannya sebagai kota ilmu melalui berdirinya Universitas Al-Qarawiyyien pada tahun 859 M oleh Fatimah al-Fihri, yang diakui sebagai universitas tertua di dunia yang masih beroperasi dan memberi gelar akademik. Universitas ini menjadi episentrum pertukaran intelektual dan budaya antara dunia Islam dan Eropa pada abad pertengahan, serta tempat belajar dan mengajar bagi ilmuwan besar seperti Ibnu Bajjah, Ibnu Zuhr, Ibnu Rusyd, Ibnu al-‘Arabi, dan Ibnu Khaldun, juga pelajar non-Muslim seperti Maimonides dan Paus Sylvester II. Di sekitar universitas berdiri Perpustakaan Al-Qarawiyyien, yang menyimpan ribuan manuskrip kuno, termasuk mushaf Al-Qur’an abad ke-9 M dengan khat Kufi. Ancaman kerusakan akibat faktor lingkungan mendorong rehabilitasi besar oleh Kementerian Kebudayaan Maroko pada tahun 2012, demi menjaga keberlangsungan warisan ilmu. Kekayaan sejarah dan khazanah manuskrip inilah yang menjadikan Fez dijuluki Madinatul ‘Ilmi (Kota Ilmu), sebagai simbol kota yang tumbuh karena ilmu, bertahan karena tradisi, dan dikenang karena peradaban."

Fez atau Fès adalah salah satu kota paling bersejarah di negeri senja, Maroko. Kota ini berdiri sejak abad ke-8 M, dibangun di atas tanah yang gersang, dipagari bukit-bukit tinggi yang seolah menjadi benteng alam bagi peradaban yang baru tumbuh. Dari lembah tandus itulah, sebuah kota lahir, lalu berkembang menjadi pusat kehidupan masyarakat: tempat ilmu diajarkan, doa dipanjatkan, dan tradisi diwariskan dari generasi ke generasi.

 

Keajaiban Fez bukan hanya pada usianya, tetapi pada daya tahannya melawan waktu. Madrasah, masjid, zawiyah, gerbang kota, hingga lorong-lorong batu yang dibangun ratusan tahun silam masih berdiri hingga kini. Gaya bangunannya yang khas dengan lengkung Moorish, ukiran zellij (mozaik keramik), dan warna tanah yang hangat menjadi ikon arsitektur Maroko. Tak heran, Fez tua (Fez el-Bali) menyimpan jejak sejarah yang begitu pekat, hingga memanggil para ilmuwan, peneliti, dan sejarawan dari seluruh dunia untuk datang, membaca masa lalu yang terukir di dinding kotanya.

 

Kota tua Fez bahkan diakui UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia, dan dikenal pula sebagai salah satu kawasan pejalan kaki perkotaan terbesar di dunia sebuah kota besar tanpa kendaraan, di mana langkah kaki menggantikan deru mesin, dan percakapan di pasar tradisional menjadi musik harian penduduknya.

 

Namun di antara seluruh permata sejarah Fez, ada satu mutiara yang paling berkilau yaitu Universitas Al-Qarawiyyien yang didirikan pada tahun 859 M oleh seorang perempuan visioner, Fatimah al-Fihri. UNESCO mengakuinya sebagai universitas tertua di dunia yang masih beroperasi dan memberi gelar akademik. Dari sinilah, peradaban ilmu Fez menjulang.

 

Di bangku dan mihrab universitas ini, lahir nama-nama raksasa intelektual dunia Islam:

  • Ibnu Bajjah (Avempace), sang ensiklopedis Andalusia;
  • Ibnu Zuhr (Avenzoar), pionir kedokteran klinis;
  • Ibnu Rusyd (Averroes), filsuf besar yang pemikirannya mengguncang Eropa;
  • Ibnu al-‘Arabi, maestro tasawuf;
  • hingga Ibnu Khaldun, sejarawan dan bapak ilmu sosiologi.

 

Bukan hanya Muslim, universitas ini juga menjadi destinasi para pelajar non-Muslim. Rabbi Moshe ben Maimon (Maimonides), tokoh filsafat Yahudi yang diagungkan sebagai “Musa kedua,” pernah menimba ilmu di sini. Ada pula Nicolas Cleynaerts dan Jacob Golius, orientalis yang mempelajari gramatika Arab, serta Gerbert d’Aurillac yang kelak menjadi Paus Sylvester II yang belajar matematika dan astronomi dari karya ilmuwan Muslim di Al-Qarawiyyien, lalu memperkenalkannya ke Eropa. Banyak dari mereka menjadi jembatan penerjemahan ilmu dari dunia Islam ke tanah Eropa.

 

Tak jauh dari kampus tua itu, berdiri sebuah bangunan sunyi yang tak kalah mengagumkan: Perpustakaan Al-Qarawiyyien, penjaga harta intelektual berabad-abad. Di rak-raknya tersimpan ±4.000 manuskrip kuno, termasuk:

  • Muqaddimah Ibnu Khaldun,
  • Al-Bayan wa At-Tahshil karya Ibnu Rusyd yang ditulis di atas kulit kijang,
  • Al-Muwatta’ dan Al-Mudawwanah Imam Malik,
  • Asy-Syifa’ karya Qadhi ‘Iyadh,
  • hingga Arjuzah Ibnu Thufail, karya medis berbentuk puisi yang membahas anatomi manusia dari ujung rambut hingga ujung kaki.

 

Di sana pula tersimpan mushaf Al-Qur’an abad ke-9 M, ditulis di atas kulit hewan dengan khat Kufi, sebagaimana dicatat oleh National Geographic. Manuskrip-manuskrip ini bukan sekadar teks, melainkan harta karun peradaban mutiara yang terkubur di tengah kota, terjaga oleh pintu perpustakaan yang dulu tertutup bagi publik.

 

Sayangnya, waktu hampir merenggut semuanya. Suhu, kelembaban, dan cahaya yang tak terkendali mengancam keselamatan naskah-naskah langka itu. Bangunan perpustakaan menua, rapuh, dan hampir menyerah. Hingga akhirnya, tahun 2012, Kementerian Kebudayaan Maroko turun tangan. Atas dorongan banyak pihak, perpustakaan ini direhabilitasi dan dibuka kembali, agar ilmu yang tersimpan tidak hilang, dan sejarah tidak runtuh bersama dindingnya.

 

Dari seluruh jejak inilah, Fez mendapatkan gelar agungnya: Madinatul ‘Ilmi—Kota Ilmu. Sebuah kota yang bukan hanya dihuni manusia, tetapi juga dihuni manuskrip; bukan hanya dilalui kaki, tetapi juga dilalui gagasan; bukan hanya dikenang oleh penduduknya, tetapi juga oleh sejarah dunia.

 

Fez mengajarkan satu hal bahwa di tengah padang tandus sekalipun, ilmu dapat tumbuh subur, asal ada hati yang menanamnya dan tangan yang menjaganya. Dan dari sinilah, peradaban berbicara melalui batu, tinta, dan langkah kaki para pencari ilmu.


ESC

Tidak ditemukan hasil untuk ""