Islam 06 March 2026 6 Menit Baca

RIWAYAT AL QURAN YANG PALING VIRAL DI ERA MODERN

Author
Rifqi Hidayatil, Lc.

Penghulu pada Kantor Urusan Agama Teupah Selatan Kabupaten Simeulue

Ringkasan

"Para ulama telah bersepakat bahwa Qirāat ‘Asyarah Mutawātirah merupakan sepuluh varian bacaan Al-Qur’an yang sah sebagai Kalamullah. Keabsahan qirāat tersebut telah diakui, serta diyakini memiliki mata rantai periwayatan yang bersambung dan sesuai dengan bacaan yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Setiap imam qirāat memiliki dua riwāyat yang paling kuat dan masyhur, sehingga secara keseluruhan terdapat 20 riwāyat Al-Qur’an yang berstatus mutawātir. Kendati seluruh riwāyat ini telah disepakati keabsahannya oleh jumhur ulama, pada era modern tidak semuanya masih memiliki komunitas pembaca tetap di tengah masyarakat. Sebagian besar riwāyat lainnya secara perlahan mengalami kepunahan tradisi pembacaan sejak beberapa abad terakhir, dan kini umumnya hanya dipelajari di institusi atau forum kajian tertentu. Di antara bacaan yang paling popular saat ini adalah riwāyat Hafs yang merupakan paling dominan dan tersebar luas, digunakan oleh lebih dari 50% populasi muslim dunia. Riwāyat ini menjadi bacaan harian umat Islam mulai dari Jazirah Arab hingga Asia Selatan, lalu menyebar ke Asia Tenggara termasuk Indonesia, Malaysia, dan sekitarnya, serta menjadi standar mushaf cetakan yang paling banyak beredar di dunia. Sementara itu, tiga riwāyat lainnya (Warsh, Qālun, dan Ad-Dūrī) masih bertahan sebagai tradisi tilawah di sejumlah negara di kawasan Afrika Utara dan Afrika Barat, seperti Maroko, Libya, Tunisia, Aljazair, dan Sudan. Namun, dari sisi sebaran global, penggunaannya bersifat regional dan tidak seluas riwāyat Hafs."

PENDAHULUAN

Qirāat Mutawātirah adalah sepuluh qirāat (varian bacaan al-Qur’an) yang telah disepakati keabsahan dan kesahihannya oleh para ulama. Seluruh qirāat tersebut merupakan mata rantai bacaan al-Qur’an yang diajarkan langsung oleh Nabi Muhammad saw. kepada para sahabat, lalu terus diwariskan secara berkesinambungan hingga sampai kepada sepuluh imam qirāat yang masyhur. Sepuluh imam tersebut ialah: Imam Nāfi’, Ibnu Katsir, Abu ‘Amr, Ibnu ‘Āmir, ‘Āshim, Hamzah, al-Kisā’i, Abu Ja‘far, Ya‘qub, dan Imam Khalaf (al-Mas’ul, 2007).


Selanjutnya, para ulama menetapkan dari masing-masing imam tersebut dua orang perawi utama yang meriwayatkan bacaan mereka. Dengan demikian, jumlah keseluruhan terdapat dua puluh riwāyat al-Qur’an yang mutawātir, yang telah disahkan dan disepakati oleh jumhur ulama. Seluruh riwāyat ini dipandang sebagai bagian yang benar (haq) dari al-Qur’an dan termasuk dalam Ahruf Sab‘ah yang diwahyukan oleh Allah swt. kepada Rasulullah saw. melalui perantaraan Malaikat Jibril.


Pada masa dahulu, berbagai qirāat atau riwāyat yang mutawātir ini telah digunakan dan dibaca oleh kaum muslimin di banyak negeri Islam. Hanya saja, setiap wilayah biasanya memiliki satu bacaan yang paling populer di kalangan penduduknya. Misalnya, penduduk Madinah lebih banyak membaca dengan qirāat Imam Nāfi’, penduduk Makkah dengan qirāat Ibnu Katsir, penduduk Syam (Suriah dan sekitarnya) dengan qirāat Ibnu ‘Āmir, penduduk Basrah dengan qirāat Abu ‘Amr dan Ya‘qub, serta penduduk Kufah dengan qirāat ‘Āshim, Hamzah, atau al-Kisā’i.


Sementara itu, penduduk Mesir pada masa tersebut lebih banyak menggunakan riwāyat Warsh dari Imam Nāfi’, dan dari Mesir inilah riwāyat Warsh mulai menyebar luas ke berbagai negeri Islam di Benua Afrika. Adapun qirāat Abu ‘Amr, selain populer di Basrah, secara bertahap juga digunakan secara luas di Irak, Hijaz, Yaman, Syam, Mesir, Sudan, hingga Afrika Timur, dan bertahan hingga abad ke-10 Hijriah (Ahmad Muflih, Khalid Syukri, dan Khalid Mashur, 2001).


Namun pada masa sekarang, tidak semua riwāyat al-Qur’an yang mutawātir tersebut masih memiliki pembaca tetap, meskipun kesahihan telah disepakati oleh para ulama. Hanya terdapat empat riwāyat yang masih dibaca dan digunakan secara konsisten oleh umat Islam. Sedangkan enam belas riwāyat lainnya secara perlahan mengalami kepunahan pembaca, sehingga menjadi asing bagi sebagian kaum muslimin. Bahkan, ada pula yang mengira bahwa hanya riwāyat yang mereka pelajari/baca merupakan satu-satunya varian bacaan al-Qur’an yang ada di dunia. Empat Riwayat tersebut adalah:


1. RIWAYAT HAFS

Riwāyat Hafs adalah salah satu riwāyat Al-Qur’an yang dinisbatkan kepada Hafs bin Sulaiman bin Al-Mughirah bin Abi Dawud Al-Asadi Al-Kufi, seorang imam dan perawi Al-Qur’an yang berasal dari Kufah. Riwāyat ini merupakan varian bacaan Al-Qur’an yang paling populer dan paling banyak digunakan oleh umat Islam di seluruh dunia saat ini.

Mayoritas kaum muslimin di Mesir, Jazirah Arab, Asia Selatan seperti India dan Pakistan, serta kawasan Nusantara dan Melayu, membaca Al-Qur’an dengan riwāyat ini dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, riwāyat Hafs digunakan secara konsisten oleh lebih dari 50% populasi muslim dunia.

Selain itu, mushaf Al-Qur’an yang beredar luas, rekaman bacaan, hingga program-program tilawah di televisi pada umumnya menggunakan riwāyat Hafs. Oleh sebab itu, hampir seluruh umat Islam telah mengenal dan sangat akrab dengan riwāyat ini, sementara riwāyat lainnya relatif jarang terdengar di tengah masyarakat.


2. RIWAYAT WARSH

Riwāyat Warsh dari Imam Nāfi’ Al-Madani merupakan salah satu riwāyat Al-Qur’an yang masih populer dan digunakan oleh umat Islam hingga saat ini. Riwāyat ini dinisbatkan kepada perawinya, Abu Sa‘id ‘Usman bin Sa‘id bin ‘Abdillah bin ‘Amr bin Sulaiman Al-Mishri, yang lebih dikenal dengan sebutan Warsh. Beliau berasal dari Mesir dan menjadi salah satu perawi utama dari bacaan Imam Nāfi’.

Saat ini, riwāyat Warsh banyak dibaca oleh kaum muslimin di sejumlah negara di kawasan Afrika Utara dan Barat, seperti Maroko, Mauritania, Aljazair, Tunisia, Libya, dan sebagian wilayah Afrika lainnya. Riwāyat ini juga digunakan secara luas dalam tradisi pengajaran, mushaf cetakan lokal, serta majelis-majelis tilawah di negara-negara tersebut.


3. RIWAYAT QALUN

Selain riwāyat Warsh, terdapat satu perawi masyhur lainnya yang juga meriwayatkan bacaan al-Qur’an dari Imam Nāfi’, yaitu Imam Qālun. Jika Warsh merupakan perawi yang berasal dari luar Madinah (yakni dari Mesir), maka Qālun adalah perawi yang berasal dari Madinah itu sendiri.

Riwāyat Qālun termasuk salah satu riwāyat Al-Qur’an yang masih memiliki pembaca tetap hingga saat ini, khususnya di beberapa negara kawasan Afrika Utara, seperti Libya, Tunisia, dan sebagian wilayah Aljazair.

Riwāyat ini dinisbatkan kepada ‘Īsā bin Mīnā bin Wardān, yang lebih dikenal dengan gelar Qālun. Beliau merupakan salah satu perawi utama dan terpercaya dari qirāat Imam Nāfi’ Al-Madani.


4. RIWAYAT AL-DURI

Dalam kajian Qirāat Sab‘ah, riwāyat Ad-Dūrī diriwayatkan melalui dua jalur, yaitu dari qirāat Imam Abu ‘Amr Al-Bashri dan qirāat Imam Al-Kisā’i Al-Kufi. Namun, yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah riwāyat Ad-Dūrī dari qirāat Imam Abu ‘Amr Al-Bashri.

Riwāyat ini merupakan salah satu varian bacaan Al-Qur’an yang hingga kini masih memiliki pembaca tetap dan digunakan secara konsisten, terutama di beberapa negara di kawasan Afrika, seperti Sudan dan sebagian wilayah Afrika lainnya.

Riwāyat ini dinisbatkan kepada perawinya, yaitu Abu ‘Amr Hafs bin ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz Ad-Dūrī, yang lebih dikenal dengan nama Ad-Dūrī. Beliau adalah salah satu perawi utama dan terpercaya dari qirāat Imam Abu ‘Amr Al-Bashri.

 

PENUTUP

Pada masa kini, empat riwāyat Al-Qur’an tersebut merupakan rujukan utama dan dibaca secara konsisten oleh umat Islam. Adapun qirāat atau riwāyat mutawātir lainnya tetap dipelajari dan dibaca, namun tidak lagi memiliki komunitas pembaca tetap secara luas sebagaimana empat riwāyat tersebut. Riwāyat-riwāyat ini umumnya hanya dibaca oleh kalangan tertentu dan dipelajari dalam kajian-kajian khusus di lembaga atau forum keilmuan tertentu.


Di antara keempatnya, riwāyat Hafs dari Imam ‘Āshim adalah bacaan yang paling dominan di dunia saat ini. Lebih dari 50% umat Islam merujuk pada riwāyat ini dalam tilawah mereka. Bahkan, hampir tidak ada seorang muslim pun yang tidak mengenal riwāyat tersebut, karena mushaf cetakan riwāyat Hafs paling banyak beredar dan mudah ditemukan di berbagai negara, termasuk di wilayah yang secara tradisional menggunakan riwāyat lainnya.


Penting untuk dipahami bahwa popularitas empat riwāyat tersebut sama sekali tidak mengurangi keagungan maupun keabsahan qirāat atau riwāyat mutawātir lainnya. Viralnya suatu riwāyat di tengah masyarakat juga tidak menunjukkan bahwa ia lebih utama dibandingkan riwāyat lainnya, atau bahwa bacaan lain lebih rendah kedudukannya. Karena pada hakikatnya, seluruh qirāat dan riwāyat yang mutawātir adalah benar, sah, dan bersumber dari wahyu yang sama, yaitu bagian dari Ahruf Sab‘ah yang diturunkan Allah ﷻ kepada Rasulullah ﷺ melalui perantaraan Malaikat Jibril.

 

 

 

 


ESC

Tidak ditemukan hasil untuk ""