04 March 2026 2 Menit Baca

Mengenal Kategori Risiko Bahan: Kunci Utama Menjaga Kehalalan Produk

Author
Rima Aryani, S.Pi.

Pengawas Jaminan Produk Halal Ahli Pertama pada Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kankemenag Kabupaten Simeulue

Ringkasan

"Dalam penetapan kehalalan, bahan diklasifikasikan berdasarkan tingkat risikonya menjadi tiga kategori: tidak kritis, kritis & sangat kritis, serta haram. Pengelompokan ini membantu pelaku usaha memilih bahan dengan tepat, mencegah ketidaksesuaian, dan menjaga konsistensi kehalalan produk."

Dalam penetapan kehalalan produk, setiap bahan yang digunakan diklasifikasikan berdasarkan tingkat risikonya terhadap status halal. Pembagian ini penting untuk mempermudah proses verifikasi, pengawasan, dan penentuan dokumen pendukung yang diperlukan. Berdasarkan jenis resiko nya, bahan dibedakan menjadi kategori tidak kritis, kritis & sangat kritis, dan haram.


  1. Tidak Kritis (Bahan yang tidak diragukan) yaitu bahan yang bukan berasal dari bahan haram dan najis, contoh: buah segar, sayur segar, umbi segar, produk laut, bahan tambang (termasuk dalam bahan yang tercantum dalam Keputusan Menteri Agama Nomor 1360 Tahun 2021 tentang Bahan yang Dikecualikan dari Kewajiban Bersertifikat Halal).
  2. Kritis & Sangat Kritis (Bahan yang diragukan) yaitu bahan yang berpotensi berasal dari atau mengandung bahan yang haram atau najis, contoh: bahan yang berasal dari atau mengandung unsur hewan sembelihan dan turunannya, sulit ditelusuri kehalalannya, mengandung bahan yang kompleks ditinjau dari sisi kekritisan bahan dan kerumitan proses pembuatannya, dan flavor & fragrance.
  3. Haram yaitu berasal dari bahan haram dan najis, contoh: bangkai, darah, babi, anjing, daging hewan yang disembelih tidak sesuai dengan syariat islam, tumbuhan yang memabukkan dan membahayakan kesehatan manusia.


Pengelompokan bahan berdasarkan risiko ini bukan hanya mempermudah proses sertifikasi halal, tetapi juga menjadi panduan penting bagi pelaku usaha agar lebih selektif dalam memilih bahan sejak tahap perencanaan produksi. Dengan memahami tingkat risiko setiap bahan, pelaku usaha dapat mencegah potensi ketidaksesuaian sejak awal dan menjaga kehalalan produk secara konsisten. Klasifikasi risiko ini pada akhirnya akan memperkuat sistem jaminan produk halal dan meningkatkan keamanan konsumsi bagi masyarakat.

ESC

Tidak ditemukan hasil untuk ""