Edukasi 05 March 2026 3 Menit Baca

Kajian Linguistik Qur’ani: Ragam Penyebutan Istri

Author
Vini Nur Zikra, S.H.

Penyuluh Agama pada Kantor Urusan Agama Alafan Kabupaten Simeulue

Ringkasan

"Kajian Linguistik Qur’ani tentang penyebutan istri menunjukkan bahwa Al-Qur’an menggunakan tiga istilah berbeda—imra’ah, shāhibah, dan azwājan—masing-masing dengan konteks khusus dan pesan yang mendalam. Imra’ah dipakai ketika terdapat ketidakselarasan nonfisik seperti perbedaan akidah, atau ketika pasangan tidak lagi bersama secara fisik. Shāhibah muncul dalam konteks relasi yang bisa menimbulkan ketegangan atau ketidaknyamanan, serta digunakan untuk menegaskan bahwa Allah mustahil memiliki pasangan. Sementara itu, azwājan menggambarkan pasangan sebagai anugerah yang menghadirkan ketenteraman, cinta, dan kasih sayang. Ketiga istilah ini menunjukkan ketelitian bahasa Al-Qur’an dalam melukiskan dinamika hubungan dan memberikan hikmah bagi kehidupan manusia."

Pernahkah kita menyadari betapa lengkapnya petunjuk Al-Qur’an untuk kehidupan sehari-hari? Tidak hanya soal ibadah, tapi juga tentang bagaimana membangun rumah tangga yang harmonis. Salah satu bentuk petunjuk itu Nampak dari penggunaan istilah untuk menyebut “istri”— setiap kata memiliki nuansa dan makna yang berbeda. Mari kita telusuri bersama makna di balik sebutan tersebut.

1.    امْرَاَتَ

Lafazh امْرَاَتَ  disebutkan tiga kali, yaitu dalam QS At-Tahrim ayat 10-11 dan Ali Imran ayat 35.

QS At-Tahrim ayat 10 menyebutkan, istilah ini digunakan untuk istri Nabi Nuh dan Nabi Luth dikarenakan adanya ketidakcocokan dalam aspek nonfisik, yaitu keyakinan.  Istri Nabi Nuh menjadi orang yang ingkar. Meskipun menjadi istri nabi, ia memilih untuk tidak beriman dan menentang kebenaran dakwah yang Nabi Nuh sampaikan. Begitu juga dengan istri Nabi Luth yang membangkang akan dakwah yang Nabi Luth sampaikan.

Ayat berikutnya (QS At-tahrim ayat 11) menyebut istri Fir’aun, Asiyah. Meskipun ia adalah perempuan beriman dan shalihah, ia bersuamikan Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan. Asiyah berdo’a kepada agar Allah membangunkan baginya rumah di surga dan menyelamatkannya dari kezhaliman Fir’aun. Do’a itu dikabulkan dan ia tidak dikaruniai keturunan dari Fir’aun— sebuah bentuk perlindungan dari Allah.

Berbeda dengan itu, QS Ali Imran ayat 35 menggunakan kata  امْرَاَتَ bukan karena konflik atau ketidakcocokan akidah, melainkan karena ketiadaan kebersamaan fisik. Ketika istri Imran berdo’a untuk anak dalam kandungannya, Imran sudah wafat. Secara agama dan akhlak, mereka sejalan, namun secara fisik mereka sudah tidak lagi bersama; keadaan ini yang menyebabkan Al-Qur’an memilih penyebutan امْرَاَتَ.

 

2.    صَاحِبَة

Dalam QS ‘Abasa ayat 34-36 istilah صَاحِبَة  menggambarkan istri dalam konteks yang membuat suaminya menjauh, takut, atau tidak nyaman. Ayat ini memberi isyarat bahwa terdapat sifat istri yang dapat “menakutkan” bagi suaminya, misalnya:

a.   Sifat Pemarah atau kasar yang membuat suami cemas berinteraksi

b.   Sifat Posesif yang mengekang

c.    Sifat tidak mendukung dan tidak menghargai suami, yang menghilangkan rasa tenteram dalam rumah tangga.

Adapun dalam QS Al-Jinn ayat 3; kata صَاحِبَة digunakan untuk menegaskan bahwa Allah tidak mungkin memiliki istri, dan karenanya tidak mungkin memiliki anak. Penggunaan istilah ini menunjukkan ketelitian Al-Qur’an dalam menafikan konsep ketuhanan yang cacat logika; kehadiran pasangan saja mustahil bagi Allah.

3.   اَزْوَاجًا

Istilah اَزْوَاجًا banyak muncul dalam Al-Qur’an, termasuk dalam konteks kehidupan di surga. Namun, salah satu ayat yang paling relean bagi kehidupan dunia adalah QS Ar-Rum ayat 21.

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Artinya :      Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.

Kata مَّوَدَّةً bisa diistilahkan dengan romantic love yang menggambarkan cinta yang hangat penuh keintiman. Sementara kata رَحْمَةً  menggambarkan situasi kesejiwaan, ketenangan dan kasih yang menumbuhkan kedamaian. Dua hal ini hanya dapat tumbuh dalam relasi yang setara dan saling menghormati—konsep yang dalam fikih disebut kafāah (keseimbangan atau kesepadanan).

 

Melalui tiga istilah ini, Al-Qur’an tidak hanya menyebut “istri” sebagai status, tetapi juga menggambarkan kondisi, peran, dan nilai moral yang dapat diambil sebagai pelajaran. Setiap istilah hadir dengan konteks yang sangat teliti—sebuah bukti betapa Al-Qur’an memperhatikan detail dalam membimbing kehidupan manusia. Semoga pemahaman ini menambah wawasan kita tentang keindahan dan kelengkapan Al-Qur’an. 


ESC

Tidak ditemukan hasil untuk ""