Ketika Alam Balas Bertanya: Banjir, Longsor, dan Isyarat Kerusakan yang Kian Nyata
Penyuluh Agama pada Kantor Urusan Agama Simeulue Barat Kabupaten Simeulue
Ringkasan
"“Ketika Alam Balas Bertanya: Kerusakan yang Kian Nyata” “Banjir dan longsor di Sumatera bukan sekadar bencana musiman ini alarm keras dari alam yang mulai kehilangan kesabarannya. Lereng runtuh, sungai meluap, hutan menghilang. Semua dalam ritme yang terlalu cepat untuk disebut ‘kebetulan alamiah’. Geologi Sumatera memang liar, tapi kerusakan terbesar bukan datang dari patahan… melainkan dari tangan manusia. Enam puluh persen titik longsor ternyata berada di area yang hutannya telah dibabat. Tanpa akar, tanah kehilangan penopang; tanpa hutan, air kehilangan rumahnya. Al-Qur’an sudah mengisyaratkan, telah tampak kerusakan di darat dan laut karena ulah manusia. Ayat itu bukan ancaman itu cermin. Dan pantulan cermin hari ini membuat kita sulit berpaling. Tesso Nilo runtuh sedikit demi sedikit. Satwa kehilangan habitat. Sungai kehilangan kejernihan. Dan anak cucu kita mungkin hanya akan melihat hutan lewat arsip, bukan kenyataan. Inilah saatnya bertanya: kita mau menunggu bencana berikutnya atau mulai merawat bumi, sebelum ia benar-benar pergi? Ekoteologi mengajak kita kembali sadar: menjaga alam adalah ibadah. Dan gerakan warga jaga warga adalah benteng terakhir agar rumah kita tidak hilang selamanya.”"
Banjir dan longsor yang menggulung Sumatera awal musim hujan ini hanya salah satu episode dari drama ekologis yang semakin sering diulang. Setiap kali hujan ekstrem turun yang kini kian intens akibat pemanasan global kita melihat pola yang sama: air meluap dalam hitungan jam, lereng runtuh seperti kertas sobek, dan sungai-sungai menolak menerima limpasan dari hutan yang sudah lama hilang penyangganya. Jika bencana adalah cermin, maka citra yang dipantulkan saat ini adalah wajah lingkungan yang kelelahan.
Geologi yang Terganggu: Lereng yang Kehilangan Penopang
Secara geologi, Sumatera adalah pulau yang hidup: dilintasi Sesar Sumatera sepanjang lebih dari 1.900 kilometer dan dikelilingi pegunungan Bukit Barisan. Lerengnya curam, tanahnya rapuh ketika jenuh air, dan struktur geologinya memuat patahan minor yang mudah terpicu bila tekanan eksternal berubah.
Namun kerentanan itu membengkak ketika aktivitas manusia mengubah tutupan lahan secara masif. Begitu akar-akar pepohonan hilang, air hujan tak lagi memiliki waktu meresap pelan; ia langsung menghantam permukaan, membawa butiran tanah, memicu erosi, dan membebani sungai. Banjir bandang dan longsor bukan sekadar kejadian alam, tetapi konsekuensi dari lanskap yang berubah terlalu cepat.
Kajian Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen titik longsor di Sumatera berada di kawasan yang mengalami deforestasi atau alih fungsi hutan dalam 10–15 tahun terakhir. Hutan Tesso Nilo di Riau adalah contoh paling gamblang: salah satu hutan dataran rendah terbaik di Asia Tenggara kini tinggal fragmen. Satwa liar gajah, harimau, dan ratusan spesies burung kehilangan rumah. Ketika bentang alam kehilangan keseimbangan, manusia tak mungkin berharap tetap aman.
Isyarat Al-Qur’an: Kerusakan di Darat dan Laut
Al-Qur’an sesungguhnya telah memberi peringatan ekologis yang terasa sangat relevan hari ini:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…” (QS Ar-Rum: 41).
Ayat ini tidak hanya berbicara retorika moral, melainkan diagnosis etika: kerusakan ekosistem bukan fenomena tiba-tiba, melainkan hasil dari keputusan manusia yang mengabaikan batas alam.
Dalam konteks kebencanaan, ayat ini bukan menyalahkan melainkan mengingatkan. Ketika hutan ditebang tanpa kendali, tanah kehilangan kekuatan menahan air. Ketika sungai disempitkan untuk permukiman, kapasitas alirnya berkurang. Ketika gambut dibakar, ia kehilangan kemampuan menyerap air. Kerusakan ekologis tidak memusuhi manusia; ia hanya mengembalikan konsekuensi dari perlakuan kita.
Ekoteologi : Menyatukan Ilmu dan Iman
Program Ekoteologi, yang digagas oleh Menteri Agama, mencoba menjembatani ruang ini: bahwa kelestarian lingkungan bukan semata isu teknis, tetapi ibadah sosial. Pesantren, KUA, dan rumah ibadah diarahkan menjadi pusat edukasi ekologis: mempraktikkan gaya hidup hemat air, pengelolaan sampah, penanaman pohon, dan literasi iklim.
Pendekatan ini penting karena bencana tidak hanya lahir dari curah hujan ekstrem atau struktur geologi, tetapi dari pola hidup yang tidak ramah lingkungan. Ekoteologi memanggil masyarakat untuk merawat bumi bukan karena takut bencana, melainkan karena bagian dari tanggung jawab moral.
Warga Jaga Warga: Barisan Terdepan Penjaga Lingkungan
Di tengah situasi ekologis yang kian rapuh, jaringan warga jaga warga muncul sebagai pengawas lokal paling efektif. Mereka mengabarkan titik longsor kecil sebelum membesar; mereka memetakan drainase yang tersumbat; mereka menegur pembukaan lahan yang sembarangan; mereka menanam pohon di bantaran sungai karena tahu manfaatnya bukan untuk hari ini, melainkan untuk cucu mereka kelak.
Ketika negara tak mungkin hadir di setiap jengkal lereng dan anak sungai, warga jaga warga menjadi barisan pertama yang membaca tanda-tanda alam. Mereka bukan hanya korban, tetapi penjaga lansekap.
Ajakan Menjaga Rumah Kita Bersama
Kerusakan ekologi bukan garis takdir; ia masih bisa diperbaiki. Kita bisa menanam kembali hutan yang hilang, membersihkan sungai yang sekarat, dan membangun kota yang lebih ramah air. Jika tidak, kita akan terus menyaksikan bencana yang berulang, dengan pola yang sama, di lokasi yang bergeser.
Hutan Tesso Nilo adalah peringatan. Jangan sampai anak cucu kita hanya mengenal hutan Indonesia lewat foto atau arsip museum. Kita tidak diwarisi bumi dari leluhur; kita meminjamnya dari generasi setelah kita.
Lampiran & Referensi
Unduh Dokumen Asli
Klik untuk membuka atau mengunduh